Saya sangat beruntung dan saya merasa seperti kejatuhan durian runtuh bagaimana tidak karena ambisi saya adalah ingin terus menuntut ilmu untuk bidang IT yang saya pelajari sekarang dan saya ingin menjadi seorang wartawan, awal saya mau menjadi seorang wartawan bermula dari sebuah acara berita dengan pembawa acara seperti Bayu Setiyono.Tetapi halangan yang saya tangani adalah rasa tidak percaya diri , selain itu jika saya sudah di berada di hadapan kamera rasa percaya diri saya bertambah, kemudian muncul dalam benak saya "Sepertinya lebih enak menjadi kameramen".
Dipelatihan jurnalistik diterangkan berbagai macam hal :
> Jika menjadi seorang pembawa acara dibutuhkan kepercayaan diri karena jika seseorang tidak mempunyai rasa percaya diri (PD) orang itu tidak bisa menjadi seorang pembawa acara, bukan hanya itu menjadi seorang pembawa acara dibutuhkan juga seperti otak yang cerdas yang bisa menghafal teks dan tutur bahasa yang benar dan bahasa tubuh yang digunakan dalam membawakan ringkasan berita.
> Kemudian menjadi seorang juru potret dibutuhkan berbagai macam teknik Photographi untuk menghasilkan gambar yang memuaskan, pengertian dari Photographi sendiri adalah cara pengambilan gambar dengan dengan sebuah kamera dengan sasaran objek tertentu yang membutuhkan suatu sudut/angle dari objek tersebut. Dalam pelatihan Photograpi saya diterangkan oleh (jika tidak salah) Kang Asep, kamera tidak boleh berhadapan dengan cahaya yang begitu banyak atau membelakanginya kearena gambar yang dihasilkan akan buram. teknik yang lain adalah memilih sudut yang benar (angle) di teknik ini mengambil gambar baik dengan photo/video dibutuhkan pengmbilan sudut-sudut yang benar dan tidak boleh asal ambil seperti objek yang diambil tidak terfokuskan dan objek yang terpotong.
> Menjadi kameramen dibutuhkan keberanian dan sikap yang sigap, cepat dan teliti karena jika kita mendapat berita atau kejadian kita harus cepat mengambil objek berita. Sementara itu sikap berani dan teliti dipakai untuk meliput berita dengan objek kekerasan misalnya ketika hendak meliput insiden bentrokan atau dalam situasi peperangan adalah kita berani mengambil resiko yang akan kita hadapi seperti besar kemungkinan kita akan terluka dalam insiden itu .
Teliti juga dipakai untuk meliput dengan objek selain daratan, misalnya kita akan meliput pemandangan bawah air maka kita harus teliti alat apa saja yang akan kita bawa, seperti kamera kedap air, pelampung dan masih banyak perlengkapan lainnya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar